Artikel

Gangguan Pendengaran pada Anak

0 151

Gangguan pendengaran pada anak perlu diketahui sedini mungkin mengingat pentingnya fungsi pendengaran dalam proses perkembangan bicara. Berbeda dengan keadaan cacat yang lain, cacat dengar pada anak tidak terlihat jelas. Cacat dengar pada bayi dan anak menyebabkan gangguan berbahasa, baik untuk menerima maupun menyampaikan pesan yang selanjutnya mengakibatkan gangguan sosialisasi dan gangguan emosional. Tidak jarang terjadi kekeliruan anggapan, anak yang terganggu pendengarannya awalnya diduga menderita gangguan mental atau gangguan tingkah laku.

Telinga terdiri atas telinga bagian luar (daun telinga dan liang telinga), telinga tengah (gendang telinga dan ruang telinga tengah), dan telinga bagian dalam (kohlea, organ keseimbangan dan saraf pendengaran). Gelombang bunyi atau suara berjalan melalui udara, menggetarkan gendang telinga, mengakibatkan bergetarnya cairan di telinga dalam yang selanjutnya menggerakkan sel-sel rambut saraf pendengaran. Dalam kohlea inilah terjadi perubahan getaran mekanik menjadi getaran listrik. Gelombang energi listrik ini kemudian diteruskan melalui saraf pendengaran ke pusat pendengaran di otak.

Anatomi Telinga

Telinga Luar

  • Daun telinga : mengumpulkan dan menyalurkan bunyi ke liang telinga

  • Liang telinga (saluran telinga luar) : mengarahkan bunyi ke telinga

Telinga Tengah

  • Gendang telinga (membran timpani) : mengubah bunyi menjadi getaran

  • Tulang-tulang pendengaran (maleus, inkus dan stapes) : rangkaian ketiga tulang kecil ini (osikula)  menghantar getaran ke telinga dalam

Telinga Dalam

  • Telinga dalam (koklea/rumah siput) : berisi cairan dan “sel rambut” yang sangat peka. Struktur yang berupa rambut halus ini bergetar ketika dirangsang oleh getaran bunyi

  • Sistem vestibular : berisi sel yang mengendalikan keseimbangan

  • Saraf auditori : menghubungkan koklea/rumah siput ke otak

anatomi_telinga

Gambar 1. Anatomi Telinga

Mekanisme pendengaran

  1. Bunyi masuk ke liang telinga dan menyebabkan gendang telinga bergetar.
  2. Gendang telinga bergetar oleh bunyi.
  3. Getaran bunyi bergerak melalui osikula ke rumah siput.
  4. Getaran bunyi menyebabkan cairan di dalam rumah siput bergetar.
  5. Getaran cairan menyebabkan sel rambut melengkung. Sel rambut menciptakan sinyal saraf yang kemudian ditangkap oleh saraf auditori. Sel rambut pada salah satu ujung rumah siput mengirim informasi bunyi nada rendah dan sel rambut pada ujung lain mengirim informasi bunyi nada tinggi.
  6. Saraf auditori mengirim sinyal ke otak di mana sinyal ditafsirkan sebagai bunyi.

alur_suara_dalam_sistem_pendengaran

Gambar 2. Alur suara dalam sistim pendengaran

Jika anak anda berumur 1 sampai dengan 3 bulan, dan tidak bereaksi terhadap suara keras, maka anda sebagai orang tua harus waspada terhadap kejadian itu. Karena pada saat usia tersebut, seorang bayi normal akan bereaksi terhadap suara bahkan akan terbangun dari tidurnya apabila terdengar suara keras. Apabila bayi anda tidak bereaksi terhadap suara-suara tersebut, ada kemungkinan bayi anda mengalami gangguan pendengaran. Gangguan pendengaran merupakan sebuah kejadian dimana telinga sang bayi tidak dapat mendengar secara maksimal bunyi-bunyian dari lingkungan sekitar.

Jenis gangguan pendengaran

  1. Gangguan Dengar Konduktif adalah gangguan dengar yang disebabkan kelainan di telinga bagian luar dan/atau telinga bagian tengah, sedangkan saraf pendengarannya masih baik, dapat terjadi pada orang dengan infeksi telinga tengah, infeksi telinga luar atau adanya serumen (kotoran telinga) di liang telinga.

  2. Gangguan Dengar Saraf atau Sensorineural yaitu gangguan dengar akibat kerusakan saraf pendengaran, meskipun tidak ada gangguan di telinga bagian luar atau tengah.

  3. Gangguan Dengar Campuran yaitu gangguan yang merupakan campuran kedua jenis gangguan dengar di atas, selain mengalami kelainan di telinga bagian luar dan tengah juga mengalami gangguan pada saraf pendengaran.

Faktor penyebab

Gangguan pendengaran ini disebabkan oleh banyak hal, diantaranya adalah :

  1. Bawaan sejak lahir.

Adanya riwayat keluarga dengan gangguan pendengaran bawaan.

  1. Infeksi telinga bagian dalam (otitis media).

yaitu infeksi pada daerah telinga bagian tengah yang disebabkan oleh bakteri atau virus. Infeksi tersebut dapat terjadi saat terkumpulnya cairan dibelakang gendang telinga. Pada anak kecil, cairan tersebut dapat muncul karena bagian-bagian telinga masih belum berkembang sempurna.

  1. TORCHS.

TORCHS adalah kependekan dari Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes dan Sifilis. TORCHS tersebut akan menginfeksi janin yang dibawa seorang ibu hamii. Akibat dari infeksi TORCHS, janin dari ibu hamil tersebut akan mengalami kelainan atau cacat bawaan termasuk gangguan pendengaran. TORCHS bukan satu-satunya penyebab seorang bayi mengalami gangguan pendengaran, kelainan bentuk anatomi telinga (dari kepala sampai leher) juga menjadi penyebab seorang bayi mengalami gangguan pendengaran.

  1. Bayi yang lahir prematur, yaitu kelahiran dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu.

  2. Konsumsi obat-obatan tertentu.

  3. Penyebab lainnya.

Beragam kondisi dapat memicu gangguan pada indra pendengaran si kecil termasuk diantaranya adalah serangan penyakit meningitis atau radang selaput otak, campak, cacar air, radang otak, benturan keras di daerah kepala, terpapar suara keras (diatas 80 db) dalam waktu lama, dan bertumpuknya kotoran telinga.

Metode tes pendengaran

Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah :

  1. Behavioural Observation Audiometry (BOA) yaitu mengamati perubahan tingkah laku anak pada respon terhadap adanya stimulus suara.

  2. Visual Reinforcment Audiometry (VRA) yaitu mengamati perubahan tingkah laku anak pada respon terhadap adanya stimulus suara bila memberikan respons ditujukan hadiah berupa boneka / mainan.

  3. Play Audiometry (Audiometry bermain) yaitu pemeriksaan pendengaran dengan audiometer yang dilakukan sambil bermain.

  4. Tes fungsi perseptif

  5. Timpanometri : untuk menilai fungsi telinga tengah

  6. Otoacoustic Emission (AOE) menilai fungsi rumah siput (koklea) secara objektif, tidak invasif, aman, sepat, akurat

  7. BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry) menilai respon elektrofisiologis saraf pendengaran sampai batang otak secara objektif, tidak invasif, aman, sensitif, tidak tergantung kondisi pasien.

Cara merangsang perkembangan anak pada umur 0-3 bulan :

  • Sering dan menimang bayi dengan penuh kasih sayang.

  • Gantung benda berwarna cerah yang bergerak dan bisa dilihat bayi.

  • Ajak bayi tersenyum dan bicara.

  • Perdengarkan musik pada bayi.

Pada umur 1 bulan, bayi bisa :

  • Menatap ke ibu.

  • Mengeluarkan suara o..o..o…

  • Tersenyum.

  • Menggerakkan tangan dan kaki.

Pada umur 3 bulan, bayi bisa :

  • Mengangkat kepala tegak ketika tengkurap.

  • Tertawa.

  • Menggerakkan kepala ke kiri dan dan ke kanan.

  • Membalas tersenyum ketika diajak bicara/tersenyum.

  • Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh.

Jika pada usia 3 bulan, bayi belum bisa melakukan hal-hal di atas, konsultasikan dengan tenaga kesehatan mengenai tumbuh kembangnya.

Orang tua memegang peranan yang sangat penting dalam deteksi dini. Orang tua yang harus teliti dalam menangkap tanda-tanda bayi/anak kurang memberikan reaksi terhadap suara di sekitarnya dan akan segera datang ke klinik guna evaluasi pendengaran, tanpa menunggu usia anak lebih besar. Keterlambatan diagnosa disebabkan masih adanya anggapan bahwa anak tidak memberikan respons terhadap suara karena faktor usia atau karena anak yang kurang perhatian akan menyebabkan tertundanya diagnosa dini. Beberapa orang tua masih belum memahami masalah gangguan pendengaran pada anak sedini mungkin, karena masih adanya anggapan bahwa anak masih belum bisa memberikan respons terhadap suara karena anak tidak peduli dengan lingkungan sekitar atau karena faktor usia anak masih belum mengerti bagaimana harus memberi respon terhadap suara. Anggapan tersebut mengakibatkan tertundanya diagnosis lebih awal karena sikap menunggu sampai usia anak dianggap mampu memberikan respon atau dapat dilakukan tes pendengaran. Cukup banyak didapati ketidaktahuan orang tua bahwa peranan pendengaran menjadi dasar perkembangan bicara. Kecurigaan gangguan pendengaran oleh orang tua merupakan informasi yang sangat berharga dalam diagnosis masalah gangguan pendengaran pada anak-anak. Misalnya, anak sama sekali tidak ada respon terhadap suara kecuali yang keras atau anak memberikan respons karena dibantu input visual. Atau anak tidak ada respons bila dipanggil, tetapi ada respons terhadap suara-suara lain seperti iklan atau lagu-lagu anak di TV yang disukainya. Respons anak terhadap stimulus di lingkungan yang sudah terbiasa di rumahnya sendiri dengan orang-orang di sekitarnya yang sudah dikenalnya dengan baik dapat memberikan informasi yang berharga mengenai kondisi pendengarannya pada anak yang pemalu atau penakut yang mungkin tidak ada respons pada saat dilakukan tes di klinik pendengaran.

Respon anak terhadap rangsang suara

  • Usia 0-4 bulan : Apakah bayi kaget kalau mendengar suara yang sangat keras? Apakah bayi yang sedang tidur terbangun kalau mendengar suara keras?

  • Usia 4-7 bulan : usia 4 bulan apakah anak mulai mampu menoleh ke arah datangnya suara tanpa melihat sumber asal suara? Apakah anak mulai mengoceh di usia 5-7 bulan Sebelum usia 7 bulan apakah anak mampu menoleh langsung ke arah sumber suara?

  • Usia 7-9 bulan : apakah anak mampu mengeluarkan suara dengan nada yang naik –turun atau monoton saja?

  • Usia 9-13 bulan : apakah anak menoleh bila ada suara di belakangnya? Apakah anak mampu menirukan beberapa jenis suara? Apakah anak sudah mampu mengucapkan suara konsonan seperti beh, geh, deh, ma.

  • Usia 13-24 bulan : apakah dia mendengar bila namanya dipanggil dari ruangan lain? Apakah anak memberikan respon dengan suara atau bahkan datang kepada anda? Kata-kata apa saja yang mampu diucapkan? Apakah kualitas suara dan cara pengucapannya normal?

Beberapa gejala pada anak dengan kemungkinan mengalami gangguan pendengaran yang bisa diamati sehari-hari oleh orang tua

  • Kurang respon terhadap suara-suara yang ada disekitarnya, seperti vacuum cleaner, klakson mobil, petir.

  • Anak kelihatannya kurang perhatian terhadap apa yang terjadi disekitarnya, kecuali yang bisa dinikmati dengan melihat. Anak tidak mudah tertarik dengan pembicaraan atau suara-suara yang ada disekelilingnya.

  • Cenderung berusaha melihat muka lawan bicara dengan tujuan mencari petunjuk dari gerak bibir dan ekspresi muka guna mendapat informasi tambahan apa yang diucapkan. Anak kurang respon apabila diajak bicara tanpa melihat muka lawan bicara.

  • Sering minta kata-kata diulang lagi.

  • Jawaban yang salah dengan pertanyaan atau perintah sederhana.

  • Kesulitan menangkap huruf mati/konsonan.

  • Anak hanya memberikan respons terhadap suara tertentu atau dengan kekerasan tertentu

  • Anak memberikan respon yang tidak konsisten pada waktu yang berbeda. kemungkinan mengalami gangguan pendengaran yang hilang timbul karena gangguan di telinga bagian tengah. Orang tua sering menganggap karena anak tidak merespon dan akan merespon kalau anak sedang mau saja.

  • Kesulitan menangkap pembicaraan di dalam ruangan yang ramai. Anak dengan gangguan pendengaran ringan atau sedang masih mampu menangkap pembicaraan dilingkungan yang ribut seperti di kelas atau dirumah dengan suara-suara TV yang cukup mengganggu. Anak dengan pendengaran yang normal mempunyai kemampuan mengatasi kesulitan di lingkungan yang ramai.

  • Ucapan anak yang sulit dimengerti merupakan salah satu kemungkinan anak mengalami gangguan pendengaran. Hal ini disebabkan anak tidak mampu menangkap semua elemen pembicaraan dengan jelas sehingga anak akan mengalami kesulitan meniru ucapan dengan betul dan baik. Anak juga akan mengalami gangguan pola berbicara yang sering rancu dengan masalah intelegensinya.

  • Bicara anak lemah atau bahkan terlalu keras. Hal ini menunjukkan bahwa anak tidak mendengar suaranya sendiri. Anak yang bicaranya pelan kemungkinan mengalami tuli konduktif karena anak dapat menangkap suaranya sendiri melalui jalur hantaran tulang sekalipun hantaran udaranya mengalami gangguan. Anak dengan tuli sensorineural akan berbicara lebih keras supaya bisa menangkap suaranya sendiri.

  • Kemampuan berbicara dan pemahaman kata-kata terbatas. Anak dengan gangguan pendengaran akan mengalami penurunan kemampuan mendengar dan memahami arti kata-kata sehingga menghambat proses perkembangan bicara.

  • Nilai di sekolah menurun atau dibawah rata-rata kelas.

  • Masalah tingkah laku, baik disekolah maupun dirumah.

Beberapa usaha pencegahan yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk mencegah gangguan pendengaran pada anak dengan mempersiapkan kehamilan yang berkualitas, menjaga nutrisi ibu saat ibu sedang hamil dan bahkan sejak merencanakan kehamilan, mengkonsumsi asam folat yang cukup sesuai dengan kebutuhan ibu selama kehamilan. Asam folat ini bermanfaat untuk mencegah cacat lahir pada bayi, penting untuk mengkonsumsi setiap hari, terutama pada tahap awal pembuahan dan awal kehamilan. Asam folat juga dapat ditemukan pada makanan seperti sereal, biji-bijian, jeruk, sayur berdaun hijau contonya bayam, dan lain-lain. Lakukan pemeriksaan kehamilan pada tenaga kesehatan rutin setiap bulannya atau setiap ada keluhan untuk mengetahui kondisi ibu dan janin. Saat telah menjadi orangtua hendaklah teliti dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan anak, waspada sedini mungkin setiap menemukan kelainan atau keterlambatan tumbuh kembang anak. Salah satu cara mudah yang dapat dilakukan setiap orangtua adalah dengan memantau dan menyesuaikannya dengan panduan pada “Buku Kesehatan Ibu dan Anak” yang biasanya setiap ibu hamil memiliki buku ini, dalam buku ini ada catatan untuk pertumbuhan anak dan juga panduan untuk menstimulasi perkembangan dan pencapaian anak. Bertanyalah pada tenaga kesehatan mengenai tumbuh kembang anak.

 buku_kesehatan_ibu_dan_anak

Gambar 3. Buku Kesehatan Ibu dan Anak

About the author / 

AdminHAS

Hilal Ahmar Solo

Alamat: Komplek Masjid Al-Muhajirin Semanggi RT 06/04 Pasar Kliwon Surakarta 57117

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hilal Ahmar Solo

Alamat: Komplek Masjid Al-Muhajirin Semanggi RT 06/04 Pasar Kliwon Surakarta 57117

Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor: AHU-4520.AH.01.02. Tahun 2008

Sesuai dengan Akte Notaris No.01 Tanggal 01 September 2008 Yang dibuat oleh Notaris Doktoranda Nurhasanah Latief, SH.MM. MKn NPWP: 21.049.063.7-526.000

Arsip