World

MANDI DAN AIR IDEOLOGIS

0 12

Sewaktu masih di tanah air, seorang mahasiswa yang tinggal di Amman mengabarkan cuaca sangat dingin. “Seminggu hanya mandi dua kali,” katanya. Kini, saat berada di ibukota Jordan tersebut saya dingin yang benar-benar menggigit. Bayangkan, sejak Rabu dini hari 28 Maret 2012, baru Jumat 30 Maret malam saya “mandi” dan ganti baju. Itupun setelah tak tahan dengan debu yang melekat di pakaian setelah seharian berada di padang Al-Aghwar, tempat berlangsungnya puncak acara GMJ (Global March for Jerusalem).

Tetapi, jangan bayangkan mandi yang saya maksud itu seperti yang biasa dilakukan di negeri kita. Gebyar-gebyur menikmati kesegaran air. “Mandi MER-C,” kata mas Azis mengistilahkan. Mas Aziz adalah tim adventure MER-C yang menjemput kami di Queen Alia International Airport. Sedangkan “Mandi MER-C” adalah istilah lain untuk sekadar menyeka ketiak dan beberapa titik tubuh yang perlu dibersihkan. “Jangan mandi, kalau mau kulit tetap tidak keriput seperti saya ini,” lanjut mas Azis. Menurutnya, dr. Joserizal mengingatkan untuk tidak mandi. Karena debu yang melekat di kulit itu sesungguhnya turut melindungi kita dari dingin.

Namun, alasan saya dan sebagian teman untuk tidak mandi bukan sekadar malas atau takut kulit jadi keriput saja. Ada persoalan ideologis yang menjadi alasannya (semoga bukan ja-im yang berlebihan, he..he..). Panitia yang mengorganisir kami di sebuah apartemen menyarankan kami untuk hemat air. Bahasa lainnya, tidak dianjurkan mandi kecuali benar-benar kepepet. Apa masalahnya?

Separoh kebutuhan air di Jordan dipasok dari Israel. Berarti, seberapa banyak kita menggunakan air pasokan Israel, sebanyak itulah uang kita keluarkan untuk mereka. Lho, bukankah jual beli itu tetap dibolehkan meskipun kepada orang-orang kafir? Benar, tapi ini bukan soal halal-haram. Ini adalah wilayah loyalitas. Terlebih suatu saat ketika kami hendak minum air langsung dari kran, dr. Joserizal langsung mencegah kami. “Jangan, itu air Israel.” “Lho, tapi di tangki truknya tadi ada tulisan sholih lis-syarab, Dok,” ujarku beralasan.

“Benar. Tapi dulu ada orang minum air langsung seperti itu, dan langsung sakit perut. Ketika dikomplain ke Israel, mereka bilang, ‘Lho, bukankah perjanjiannya kami mensuplai air kalian? Terlepas dari air apa, yang penting kami sudah suplai kalian dengan air’.” Alamak, jawaban ketus yang muncul dari sebuah dendam ideologis…

About the author / 

AdminHAS

Hilal Ahmar Solo

Alamat: Komplek Masjid Al-Muhajirin Semanggi RT 06/04 Pasar Kliwon Surakarta 57117

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hilal Ahmar Solo

Alamat: Komplek Masjid Al-Muhajirin Semanggi RT 06/04 Pasar Kliwon Surakarta 57117

Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor: AHU-4520.AH.01.02. Tahun 2008

Sesuai dengan Akte Notaris No.01 Tanggal 01 September 2008 Yang dibuat oleh Notaris Doktoranda Nurhasanah Latief, SH.MM. MKn NPWP: 21.049.063.7-526.000

Arsip