Artikel, Publikasi Media

Hal Penting yang Perlu diketahui tentang Osteoarthritis

0 356

Osteoarthritis

Osteoarthritis (OA) adalah penyakit degeneratif yang menyerang sendi secara kronis dan mengakibatkan dampak ekonomi yang signifikan terhadap kesehatan kita.
Osteoartritis diketahui paling sering di tungkai bawah, terutama sendi lutut,dimana kerusakan patologis akibat benturan pada sendi pasca trauma menyebabkan perubahan degenerasi tulang rawan yang dini.
Gejala utama dari OA adalah nyeri, penurunan gerak sendi (ROM) dan kekakuan, kelemahan otot periarticular dan atrofi, efusi sendi dan pembengkakan, dan keterbatasan gerak. Meskipun prevalensi penyakit, patogenesis dan progesifitas OA tidak sepenuhnya dipahami khususnya pada perbedaan OA primer dibandingkan OA sekunder. Misalnya dalam hal inflamasi dan posttraumatic efek.
Pada dasarnya OA memiliki karasteristik dalam hal perubahan struktural pada kesuluruhan bagian sendi. Berkurangnya ketebalan dari kartilago artrikuler baik total maupun sebagian. Sklerosis pada tulang subkondral, osteofit, penebalan pada kapsul sendi yang secara klinis akan tampak pada penampakan radiologis. Meskipun perubahan secara radiologis dapat di ikuti sesuai dengan waktu, penampakan klinis tidak selalu berhubungan dengan penampakan radiologis.
Tidak ada tatalaksana untuk OA, kecuali dengan menanggulangi keluhan dengan obat dan juga untuk mempertahankan patensi sendi dan operasi. Kelemahan otot pada OA adalah dikarenakan atrofi atrofi otot periartrikuler, yang diyakini menjadi penyebab sekunder dari nyeri sendi yang timbul. (inhibisi otot arthrogenic). penelitian terbaru menunjukkan bahwasannya penurunan volume otot adalah factor resiko untuk terjadi mya OA. Cara menanggulangi kelemahan otot yang terjadi adalah dengan latihan dan olah raga.

Ketidak seimbangan Otot dan atrofi Otot dapat memicu terjadinya OA

Otot memainkan peran penting dalam biomekanikal sendi karena otot berperan dalam gerakan,  menyerap beban yang ada, dan berperan dalam stabilitas sendi, dengan demikian otot terlibat dalam adaptasi sendi dan proses degenerasi pada OA.
Beberapa penelitihan telah meneliti efek dari kelemahan otot dan ketidakseimbangan dapat menginduksi terjadinya OA.
Hal ini umumnya berhubungan dengan usia dan trauma sebelumnya, otot kurang intensif digunakan. Otot lemah tersebut tidak hanya mengalami kelelahan, tetapi juga mengalami keterlambatan reflek. Hal demikian yang menyebabkan fungsi otot sebagai pelindung tulang mengalami pengurangan dan menyebabkan pergeseran dan ketidakstabilan sendi. Sebagai akibatnya tekanan terus menerus mengakibatkan mikrotrauma dan menyebabkan degenerasi kartilago, tekanan patologis pada subchondral yang semakin meningkat dan akhirnya menyebabkan sklerosis subkondral. Dan pergeseran axis dari sendi tersebut dapat memicu timbulnya pathobiomekanikal OA yang terus menerus menyerang sendi.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Slemenda menyebutkan bahwasannya pada wanita yang menderita OA pada lutut mengalami kelemahan otot extensor tungkai ketika dibandingkan denga pasien wanita yang tidak mengalami OA. Begitu juga penelitian yang dilakukan oleh VAlderrabano melaporkan pasien dengan OA pada ankle unilateral mengalami pengurangan kekuatan  otot nya ketika di periksa dengan elektromiografi.
Untuk selanjutnya dilakukan penelitian abnormalitas selular dari otot yang mengalami kelelahan dan atrofi, beberapa penelitian histology dan histokimia telah dilakukan. Pada biopsy yang dilakukan pada manusia menunjukkan bahwasannya immobilisasi pada individu sehat memicu terjadinya atrofi.  Sehingga sangat ditekankan untuk melakukan olah raga dalam pencegahan dan penanggulangan atrofi otot.

Olah Raga Bagi Penderita OA

Perlu di ketahui untuk pasien yang menderita OA, bahwasannya tidak ada obat spesifik untuk menyembuhkan OA. Selama ini pengobatan hanya di fokuskan pada manajemen gejala yang timbul.
Menaggulangi Rasa sakit, perbaikan stabilitas sendi adalah tujuan  utama dari terapi. Penelitian dilakukan dalam beberapa tahun terakhir memberikan data yang mendukung asumsi bahwa kelemahan otot dan atrofi otot dapat berkontribusi terjadinya OA.
Dengan demikian, rehabilitasi dan fisioterapi dianjurkan dengan maksud untuk mengurangi rasa sakit dan meningkatkan mobilitas. Latihan harus dilakukan secara teratur untuk mengatasi atrofi otot. Rehabilitas difokuskan pada penguatan otot dan latihan peregangan atau aerobik dapat berupa jalan sehat,lari, atau berenang. Dalam sebuah penelitian, berenang telah terbukti kurang efisien dalam mengurangi rasa sakit dan meningkatkan fungsi otot dibandingkan jalan sehat atau lari. Aerobic terbukti dapat mengurangi gejala dalam jangka pendek pada pasien OA, khususnya OA sendi lutut, selain itu dapat menguatkan otot di sekitar lutut. Meskipun secara jangka panjang belum ada data penelitian yang tersedia.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Cadmus menyebutkan bahwasannya berenang hanya efektif pada OA dengan kelebihan berat badan. Berenang memungkinkan seseorang untuk bergerak secara lebih longgar dengan pengurangan rasa nyeri  karena terbantu dengan adanya daya apung. Olah raga air dapat sebagai cara untuk menunjukkan bagian yang cacat. Setelah melihat beberapa penelitian yang dilakukan  brosceau menyimpulkan  bahwasannya pengaruh latihan dengan mengunakan beban atau tidak menggunakan beban dapat sama sama mengurangi nyeri dan memperbaiki fungsi sendi. Data menunjukkan peningkatan kecepatan berjalan sehingga beberapa peniliti berspekulasi bahwasannya kedua tipe terapi terapi tersebut dapat memperbaiki keseimbangan sendi dan rangsang prpioseptik penderita.
Selanjutnya dengan membandingkan pengaruh pelatihan dengan menggunakan beban atau tidak menggunakan beban , pengembangan posisi yang tepat dapat digunakan untuk menurunkan rasa nyeri dan meningkatkan kekuatan otot. Sebuah penelitian terbaru menyebutkan bahwasannya olah raga Tai Chi dapat digunakan sebagai salah satu metode terapi OA, khususnya OA yang mengenai sendi lutut. Karena olah raga tai chi mengkombinasikan kekuatan keseimbangan, flexibilitas. Dan kesimpulannya dari keseluruhan progam pelatihan memiliki hasil yang baik dalam mengurangi rasa nyeri, dan pebaikan fungsi fisik pada pasien yang mengikuti olah raga Tai Chi.
Banyak  literatur menunjukkan bahwasannya gejala OA mengalami perbaikan yang jelas pada pasien yang melakukan progam latihan aerobik, baik dalam hal pengurangan nyeri. Tetapi  efek ini tidak akan tampak jika program latihan tidak dilakukan secara terus menerus. Dengan demikian, motivasi kepada pasien untuk melakukan latihan adalah  penting. Banyak pasien yang menderita OA menolak untuk melakukan olahraga dikarenakan sakit pada persendia. Sehingga Dalam hal ini penggunaan obat penghilang rasa sakit selama minggu pertama dari program latihan dapat membantu untuk pergerakan sendi saat berolah raga karena rasa sakit yang timbul.
Untuk kasus penyakit yang mengalami nyeri yang parah karena pasien obes, dapat dilakukan pada awal latihan dengan olah raga yang berbasis air,  seperti berenang atau jogging dalam air  yang dapat menyebabkan dilatihnya otot tanpa sendi mengalami pembebanan, sehingga nyeri dapat dikurangi.
(dr. Misbahudin)

About the author / 

AdminHAS

Hilal Ahmar Solo Alamat: Komplek Masjid Al-Muhajirin Semanggi RT 06/04 Pasar Kliwon Surakarta 57117

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hilal Ahmar Solo

Alamat: Komplek Masjid Al-Muhajirin Semanggi RT 06/04 Pasar Kliwon Surakarta 57117

Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor: AHU-4520.AH.01.02. Tahun 2008

Sesuai dengan Akte Notaris No.01 Tanggal 01 September 2008 Yang dibuat oleh Notaris Doktoranda Nurhasanah Latief, SH.MM. MKn NPWP: 21.049.063.7-526.000

Arsip